Rabu, 11 Februari 2026

Strategi Antiperang Gerilya Modern di Laut Melawan UAV, USV, dan UUV

  • Februari 11, 2026
  • Penerbit NEM


Buku ini terinspirasi strategi Sri Lanka menghadapi Sea Tiger LTTE, Rusia menghadapi serangan USV Ukraina, dan Amerika Serikat menghadapi serangan Houthi. Perang gerilya modern di laut tidak hanya dilakukan oleh Negara seperti Ukraina, namun juga oleh aktor nonnegara seperti Houthi. Sehingga strategi anti perang gerilya modern di laut  melawan UAV, USV, dan UUV tidak hanya dilakukan oleh Negara dengan kekuatan militer besar seperti Amerika Serikat dan Rusia, namun juga negara berkembang seperti Sri Lanka.

 

Strategi perang gerilya laut maupun anti gerilya laut modern sangat sesuai dengan konsep perang berlarut yang dikemukakan oleh Menteri Pertahanan RI dalam kerangka defensif aktif, yaitu strategi pertahanan yang menekankan kemampuan bertahan jangka panjang, mematahkan kehendak lawan, serta memaksimalkan seluruh sumber daya nasional untuk menghadapi konflik.

 

Drone kamiakze UAV, USV, maupun UUV secara langsung sesuai dengan karakter perang berlarut karena bersifat relatif murah, dapat diproduksi massal, mudah diganti ketika hilang, serta mampu memberikan efek tempur dan intelijen yang penting tanpa mengorbankan personel. Swarm attack juga sesuai dengan konsep “Hellscape”, sebuah doktrin yang bertujuan membanjiri zona pertempuran dengan ribuan drone otonom murah sebagai serangan kamikaze. Penulis juga menyertakan pengalaman dalam menciptakan maritime kamikaze drone yang dapat berfungsi sebagai USV dan UAV sebagai sasaran dalam sarana latihan menghadapi perang gerilya modern di laut.

           

                                                                    PEMBELIAN BUKU: