Rabu, 06 Mei 2026

Ekokultural Tanah Papua

  • Mei 06, 2026
  • Penerbit NEM


Buku ini mengungkap hubungan mendalam antara masyarakat adat Papua dengan alam sekitarnya melalui kacamata ekokultural. Penulis menjelaskan bahwa bagi suku-suku seperti Enggros, Marind, Tehit, Irires, Miyah, dan Mpur, alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan “supermarket alami” yang menyediakan segala kebutuhan pangan, papan, hingga obat-obatan tradisional. Hutan mangrove dan dusun sagu diibaratkan sebagai rahim ibu yang harus dijaga karena menjadi sumber kehidupan sekaligus penyimpan nilai-nilai spiritual yang sakral.

 

Kekuatan utama buku ini terletak pada pembahasan mengenai hubungan erat antara bahasa daerah dengan kelestarian ekosistem. Penulis menunjukkan bahwa bahasa lokal menyimpan pengetahuan mendalam tentang kekayaan flora dan fauna. Jika suatu habitat atau jenis tanaman hilang akibat kerusakan lingkungan, maka istilah atau kosakata (leksikon) dalam bahasa daerah yang melekat padanya juga akan ikut punah. Oleh karena itu, melestarikan alam Papua secara tidak langsung merupakan upaya menyelamatkan bahasa ibu dan identitas budaya masyarakatnya.

 

Melalui pendokumentasian kearifan lokal, seperti tradisi inisiasi perempuan suku Irires hingga sistem adat suku Marind, buku ini mengajak pembaca untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi arus modernisasi. Penulis memberikan pengingat penting bahwa investasi dan pembangunan jangan sampai memarginalkan masyarakat adat atau merusak keseimbangan alam. Karya ini diharapkan menjadi inspirasi bagi peneliti dan masyarakat luas untuk menjaga kelestarian hutan Papua demi keberlanjutan sejarah dan warisan luhur bagi generasi mendatang.


Judul : Ekokultural Tanah Papua

Penerbit : PT Nasya Expanding Management (Penerbit NEM)

ISBN : Sedang Proses

Penulis : Dr. Yafed Syufi, S.S., M.A.

Ukuran : 15.5 x 23 cm

Tebal : viii + 138 halaman

Harga : Rp64.300,00


PEMBELIAN BUKU: