Ekokultural Tanah Papua
Buku ini mengungkap hubungan
mendalam antara masyarakat adat Papua dengan alam sekitarnya melalui kacamata
ekokultural. Penulis menjelaskan bahwa bagi suku-suku seperti Enggros, Marind,
Tehit, Irires, Miyah, dan Mpur, alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan “supermarket
alami” yang menyediakan segala kebutuhan pangan, papan, hingga obat-obatan
tradisional. Hutan mangrove dan dusun sagu diibaratkan sebagai rahim ibu yang
harus dijaga karena menjadi sumber kehidupan sekaligus penyimpan nilai-nilai
spiritual yang sakral.
Kekuatan utama buku ini terletak
pada pembahasan mengenai hubungan erat antara bahasa daerah dengan kelestarian
ekosistem. Penulis menunjukkan bahwa bahasa lokal menyimpan pengetahuan mendalam tentang kekayaan flora dan fauna. Jika suatu habitat
atau jenis tanaman hilang akibat kerusakan lingkungan, maka istilah atau
kosakata (leksikon) dalam bahasa daerah yang melekat padanya juga akan ikut
punah. Oleh karena itu, melestarikan alam Papua secara tidak langsung merupakan
upaya menyelamatkan bahasa ibu dan identitas budaya masyarakatnya.
Melalui pendokumentasian kearifan
lokal, seperti tradisi inisiasi perempuan suku Irires hingga sistem adat suku
Marind, buku ini mengajak pembaca untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi
arus modernisasi. Penulis memberikan pengingat penting bahwa investasi dan
pembangunan jangan sampai memarginalkan masyarakat adat atau merusak
keseimbangan alam. Karya ini diharapkan menjadi inspirasi bagi peneliti dan
masyarakat luas untuk menjaga kelestarian hutan Papua demi keberlanjutan
sejarah dan warisan luhur bagi generasi mendatang.
Judul : Ekokultural Tanah Papua
Penerbit : PT Nasya Expanding Management (Penerbit NEM)
ISBN : Sedang Proses
Penulis : Dr. Yafed Syufi, S.S., M.A.
Ukuran : 15.5 x 23 cm
Tebal : viii + 138 halaman
Harga : Rp64.300,00
PEMBELIAN BUKU:


